Beranda > batik modern > paduan kain batik dengan sutera

paduan kain batik dengan sutera

Agustus 8, 2012

kain batik dan kombinasinya

kain batik berkualitas

kain batik solo pekalongan

perancang busana ternama Jika biasanya Eddy Betty selalu menghadirkan koleksi yang dibuat dari olahan kain batik, kali ini sedikit berbeda. Untuk rangkaian busana terbarunya, desainer Indonesia ini mengeksplorasi kain tenun ikat Bali menjadi karya edgy yang jadi ciri khasnya.Edbe (baca: Edibi) merupakan lini sekunder milik Eddy Betty bersama pasangan bisnisnya, Ley Sandjaja. Keduanya memiliki visi dan misi yang sejalan, yaitu meramaikan industri mode dengan koleksi yang edgy dan mengangkat wastra nusantara. Oleh karena itu, karya Edbe tidak berhenti hanya pada kain batik saja.

Eddy Betty mengatakan saat konferensi pers di Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta, pada Kamis (7/6/2012).”Inspirasinya datang ketika kami berdua pergi ke Bali untuk berlibur. Kami menggunakan tenun Bali dan mengolahnya agar tetap kasual, fashionable tapi tetap punya personality. Ini adalah kado kita dari Bali,” “Kita menggunakan motif edbe, yaitu motif payung, polkadot, kotak-kotak, warna yang beda. Initinya keluar dari pakem yang ada. Saya bikin yang ‘selengean’. Saya ingin memberikan nafas baru,” jelas Eddy lagi.

dalam memperhatikan kebutuhan anak muda yang ingin tampil modis, Eddy dan Ley mengolah kain tenun Bali Ende jauh dari kesan berat dan konservatif. Hal tersebut bisa dilihat dari permainan motif yang modern, seperti polkadot, payung dan kotak-kotak. Selain itu, padu padan berbagai bahan non tenun dengan tenun ikat memberikan tampilan ala anak muda yang edgy dan ‘nakal’.

Eddy menghadirkan kurang lebih 114 koleksi busana yang terdiri dari terusan asimetris, jumpsuit, romper, atasan bervolume serta celana model jodphur. Untuk permainan detail, Edbe banyak mengaplikasikan aksen draperi, kerut, layering, dan peplum.

Walau sebagian besar busana tampak kasual, Edbe juga tak lupa menyajikan gaun-gaun malam yang tetap santai namun sedikit lebih ‘niat’. Misalnya terusan kemeja dengan potongan asimetris yang dilengkapi ikat pinggan berupa tali tambang behiaskan kristal pada ujungnya.”Harapan kami, harganya bisa lebih murah dari batik tulis. Kami menggunakan 100 persen tenun yang berbeda-beda. Ada yang ringan, ada pula yang pada. Semakin pada tenun maka semakin mahal pula harganya. Untuk satu baju, kami menggunakan empat kain tenun. Jadi untuk harga, tidak jauh berbeda dengan harga koleksi kami sebelumnya, mulai dari Rp 800 ribu ke atas,” tutup Ley Sandaja pada kesempatan yang sama.

(eya/eya)

 Redaksi: redaksi[at]wolipop
%d blogger menyukai ini: